APLIKASI RONDE KEPERAWATANDENGAN MYOMA UTERI PRE DAN POST OP TAH+BSO


Topik : Asuhan keperawatan klien dengan myoma uteri pre dan post op TAH+BSO

Sasaran : Ny “Y”

Waktu : Pukul 10.00 – 10.30

Hari : Sabtu, 16 mei 2009

  1. Tujuan
    1. Tujuan umum : Menyelesaikan masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan myoma uteri pre dan post op TAH+BSO
    2. Tujuan khusus :
  • Menjustifikasi masalah keperawatan pada klien dengan myoma uteri pre dan post op TAH+BSO
  • Mendiskusikan penyelesaian masalah keperawatan yang muncul dengan PP lain
  • Mampu menemukan masalah ilmiah terhadap masalah klien
  • Meningkatkan validitas data pasien
  • Mampu melanjutkan intervensi keperawatan sesuai masalah keperawatan
  • Mampu memodifikasi rencana keperawatan sesuai masalah yang muncul
  1. Sasaran

Klien Ny “Y” umur 47 tahun yang dirawat di ruang nifas RSD Dr Soebandi Jember

  1. Materi
  • Teori asuhan keperawatan tentang myoma uteri
  • Masalah keperawatan yang muncul pada kasus myoma uteri pre dan post TAH+BSO
  • Intervensi keperawatan klien myoma uteri pre TAH+BSO
  1. Metode

Ronde keperawatan (Nursing Round)

  1. Media
  • Dokumen klien
  • Sarana diskusi: buku, bollpoint
  • Materi disampaikan secara lisan
  1. Proses Ronde
  • Kepala ruang , PP dan perawat konselor mengadakan pertemuan di ruang nurse station
  • Kepala ruang membuka acara ronde keperawatan dengan memperkenalkan anggota tim ronde keperawatan, dilanjutkan dengan menjelaskan masalah keperawtan klien dan apa yang menjadi topik ronde keperawatan.
  • Kepala ruang, tim ronde keperawatan dan perawat konselor melakukan kunjungan ke pasien yang akan dilakukan ronde keperawatan.
  • Kepala ruang sebagai fasilitator mempersilahkan kepada PP yang bertanggung jawab kepada pasien yang akan dilakukan ronde untuk memulai pelaksanaan ronde keperawatan.
  • PP yang bertanggung jawab mulai melakukan kegiatan ronde keperawatan dengan memperkenalkan klien dan keluargakepada anggota tim ronde, menjelaskan riwayat penyakit dahulu dan sekarang menjelaskan data focus, menyampaikan intervensi keperawatan dan tindakan kolabolatif yang telah dilaksanakan dan menyampaikan alasan ilmiah atas intervensi yang telah dilakukan.
  • PP dan PA melakukan validasi atas penjelasan intervensi keperawatan yang telah diberikan kepada klien.
  • PP melakukan diskusi dengan klien dan keluarga tentang cara perawatan1 diri secara mandiri kepada klien dan keluarga, PP memberikan ucapan terima kasih kepada klien dan keluarga atas kerjasama dalam menyukseskan kegiatan ronde keperawatan.
  • Kepala ruangan mempersilahkan anggota tim ronde keperawatan kembali ke nurse station guna melanjutkan diskusi dari hasil pelaksanaan ronde keperawatan.
  • Kepala ruang PP dan PA serta perawat konselor memberikan alternatif pemecahan masalah dengan alasan ilmiah.
  • Kepala ruangna menyimpulkan hasil evaluasi dan proses pemecahan masalah klien sekaligus menutup acara ronde keperawatan.
  1. Mekanisme kegiatan
NO Waktu Kegiatan Pelaksana Klien Tempat
1 Pra ronde

  1. Menentukan kasus sehari sebelum pelaksanaan ronde
  2. Informed consent
  3. Menenetukan literatur
  4. Diskusi pelaksanaan
Tim - R Nifas
2 15 menit Ronde pembukaan

  1. Salam pembukkaan.
  2. Memperkenalkan tim ronde
  3. Menyampaikan identitas dan masalah klien
  4. Menjelaskan tujuan ronde
Karu - Ners station
20 menit Penyajian masalah

  1. Menjelaskan riwayat penyakit klien
  2. Menjelaskan masalah keperawatan yang belum teratasi

Validitas data

  1. Memberi salam dan memperkenalkan klien dan keluarga kepada tim ronde.
  2. Mencocokan dan menjelaskan kembali data yang telah disampaikan
PP Mendengarkan Bed klien
20 menit Diskusi dan Tanya jawab Karu, PP, PA, Perawt konselor Ners station
3 5 menit Pasca ronde

  1. Evaluasi pelaksanaan ronde
  2. Revisi dan perbaikan
Karu, pembimbing dan supervisi Ners station
  1. Kriteria evaluasi
  • Bagaimana koordinasi persiapan dan pelaksanaan ronde
  • Bagaimana peran PP dan PA saat ronde
  • Bagaimana peran PP dan PA dalam pelaksanaan pengorganisasian ronde

Resume Asuhan Keperawatan Klien Ny Y

Dengan Myoma Uteri Pre dan Post Op TAH+BSO

Di Ruang Nifas RSD DR Soebandi Jember

  1. Nama : Ny Y, 47 tahun, suku madura, alamat jember
  2. Keluhan utama : Perdarahan dari kemaluan + 150 cc perhari berwarna merah tua dan pekat berupa gumpalan darah
  3. RPS : Klien pernah rawat inap di RSD dr Soebandi selama 1 bulan yang lalu  dengan diagnosa myoma uteri dan direncanakan operasi pada tanggal 5 mei 2009 namun batal dan pulang kemudian mengalami perdarahan di rumah dan nyeri perut saat darah keluar sebanyak + 500 cc berupa gumpalan dengan warna merah pekat dan langsung ke RSD dr Soebandi dan dianjurkan untuk MRS di ruang nifas.
  4. Riwayat psikososial : Hubungan klien dengan keluarga dan tetangga baik dan tidak pernah terlibat konflik
  5. Pola persepsi dan tata laksanan hidup sehat: Klien rutin kontrol ke poli kandungan di RSD Dr Soebandi tiap 1 bulan, klien tidak percaya dukun dan jika sakit berobat ke RSD Dr Soebandi Jember.
Pola fungsi kesehatan Sebelum MRS Saat MRS
Pola makan 3x/hari. Nasi lauk tahu, tempe, sayur (klien jarang makan daging dan ikan). Klien jarang makan buah. Alergi (-) 3x/hari. Nasi lauk tahu, tempe, sayur, daging dan buah. Alergi(-)
Pola minum 5-7 gelas air putih. Klien tidak mengkonsumsi kopi dan alkohol 4-5 gelas air putih
Pola BAB Rutin setiap hari konsistensi lembek, tidak konstipasi Rutin setiap 2 hari konsistensi lembek, tidak konstipasi
Pola BAK 5-6 x/hari. Kuning jernih. Tidak ada keluhan 6-8 x/hari. Kuning. Tidak ada keluhan
Pola  tidur siang + 1 jam + 2 jam
Pola tidur malam + 6 jam + 4 jam
Pola mandi Tiap hari menggunakan sabun mandi Tiap hari menggunakan sabun mandi
Pola kebersihan gigi dan mulut Sikat gigi 2x sehari Sikat gigi 2x sehari

Diagnosa keperawatan

  1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan sistem saraf sekunder akibat penyempitan kanalis servikalis oleh myoma
  2. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prognosa penyakit
  3. Gangguan eliminasi urine (retensio) berhubungan dengan penurunan kapasitas vesika urinary skunder terhadap masa tumor.
  4. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d perdarahan berulang skunder terhadap penekanan masa otot dinding uterus
  5. Nyeri berhubungan dengan adanya diskontinuitas jaringan sekunder akibat tindakan pembedahan

Intervensi Keperawatan

  1. Mengajarkan dan mencatat tipe nyeri serta tindakan untuk mengatasi nyeri
    1. Memotivasi klien untuk mengungkapkan perasaannya mengenai tindakan pembedahan dan pengaruhnya terhadap diri klien
    2. Menganjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat, mengatur posisi, mengalirkan air keran.
    3. Mengevaluasi turgor kulit dan kondisi umum membran mukosa
    4. Mengajarkan dan mencatat tipe nyeri serta tindakan untuk mengatasi nyeri

Evaluasi Keperawatan

  1. S: Klien mengatakan nyeri berkurang dengan skala 4 dan terasa saat muncul perdarahan

O : Pembatasn gerak (+)

Klien mampu mendemonstrasikan pengalihan nyeri

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 3-5

  1. S : Klien masih gelisah dan menanyakan tenntang jadwal operasi yang ditunda

O : Klien senantiasa bersama keluarga untuk membicarakan masalahnya

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 3-4

  1. S : Klien masih merasa kencing tidak tuntas

O : Vesika urinary terasa kosong dan klien tampak sering ke kamar mandi

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 2-3

  1. S : -

O : Mukosa bibir kering dan tampak anemis

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 3-5

  1. S : Klien mengatakan nyeri hebat dengan skala 7 pada daerah pembedahan dan terasa setiap saat

O : Pembatasan gerak (+)

Post op hari ke 0

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1-5

27 November 2009 at 16:21 Tinggalkan komentar

MODEL KONSEPTUAL DOROTHEA OREM PADA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE NON HAEMORRAGIC

APLIKASI MODEL KONSEPTUAL DOROTHEA OREM PADA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN Ny M DENGAN STROKE NON HAEMORRAGIC DI RUANG SARAF RSD DR SOEBANDI JEMBER


GALLANT YUDA P


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Keperawatan sebagai pelayanan profesional, dalam aplikasinya harus dilandasi oleh dasar keilmuan keperawatan yang kokoh. Dengan demikian perawat harus mampu berfikir logis, dan kritis dalam menelaah dan mengidentifikasi fenomena respon manusia. Banyak bentuk-bentuk pengetahuan dan ketrampilan berfikir kritis harus dilakukan pada setiap situasi klien, antara lain dengan menggunakan model-model keperawatan dalam proses keperawatan dan tiap model dapat digunakan dalam praktek keperawatan sesuai dengan kebutuhan.

Menurut American Heart Association, diperkirakan terjadi 3 juta penderita stroke pertahun, dan 500.000 penderita stroke yang baru terjadi pertahun. Sedangkan angka kematian penderita stroke di Amerika adalah 50- 100/100.000 penderita pertahun. Angka kematian tersebut mulai menurun sejak awal tahun 1900, beberapa peneliti mengatakan bahwa hal tersebut akibat kejadian penyakit yang menurun yang disebabkan karena kontrol yang baik terhadap faktor resiko penyakit stroke.(Iskandar, 2002). Menurut Warlow, dari penelitian pada populasi masyarakat, Infark aterotrombotik merupakan penyebab stroke yang paling sering terjadi, yaitu ditemukan pada 50% penderita aterotrombotik bervariasi antara 14-40%. Infark aterotrombotik terjadi akibat adanya proses aterotrombotik pada arteri ekstra dan intrakranial.

Sedangkan dari data survey Kesehatan Rumah Tangga (1995) DepKes RI, menunjukkan bahwa penyakit vaskuler merupakan penyebab kematian pertama di Indonesia. Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa pencegahan dan pengobatan yang tepat pada penderita stroke merupakan hal yang sangat penting, dan pengetahuan tentang patofisiologi stroke sangat berguna untuk menentukan pencegahan dan pengobatan tersebut, agar dapat menurunkan angka kematian dan kecacatan.

Pada beberapa kasus serangan stroke klien akan mengalami kecacatan baik bersifat sementara maupun menetap. Hal ini tentunya merupakan tantangan tersendiri bagi klien, dikarenakan perubahan situasional dan kondisi klien yang mengalami kelumpuhan akan mempersulit mobilitas baik selama perawatan di Rumah Sakit maupu ketika di rumah. Peran keluarga sangat penting dimana pada masa awal klien akan membutuhkan bantuan dari keluarga, namun pada jangka panjang tentunya klien harus mampu memenuhi kebutuhan harian secara mandiri dengan bantuan minimal.

Dari beberapa model konsep, salah satu diantaranya adalah model “self care” yang diperkenalkan oleh  Dorothea E. Orem. Model konsep ini dipilih karena sesuai dengan kondisi Ny M yang mengalami masalah keperawatan defisit perawatan diri dikarenakan kelemahan fisik. Kondisi tersebut tentunya akan sejalan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Ny M. Tujuan akhir dari keadan ini adalah perawata mampu memfasilitasi dan membawa klien untuk mulai menyadari tentang keterbatasan sehingga pada akhirnya secara bertahap akan kembali memiliki fungsi self care secara optimal

Melalui pendekatan model konseptual Dorothea Orem, perawat akan memfasilitasi kebutuhan Ny M sesuai tingkat ketergantungan dimana pada awal serangan klien akan masuk dalam tingkat ketergantungan total care dan memerlukan bantuan secara penuh dari perawat, diharapkan dengan bantuan tersebut klien secara bertahap akan mampu mencapai fungsi self care kembali sesuai dengan tingkat kemampuan klien.

Kasus ini dipilih dan menarik untuk dipelajari karena kondisi stroke merupakan permasalahan bagi klien dan keluarga dimana pada awalnya klien mengalami kelemahan angota gerak dan memiliki riwayat penyakit terkait yaitu PJK. Selain itu asuhan keperawatan diberikan kepada klien pada saat tingkat total care sehingga penulis ingin mengidentifikasi bagaimana perkembangan Ny M dalam mencapai fungsi self care. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk memilih kasus klien Ny M dengan kasus stroke non haemorragic hari ke 1 dengan menggunakan pendekatan model konseptual self care Dorothea Orem.

  1. B. Rumusan Masalah

Klien yang mengalami serangan stroke pada umumnya mengalami kelumpuhan dan memiliki permasalahan penurunan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri. Proses pemulihan dari kondisi kelemahan memerlukan bantuan perawat pada saat total care, keluarga dan orang terdekat ketika klien memasuki proses perawatan mandiri. Ny M dengan kondisi kelemahan fisik akan berada pada tingkat total care dimana membutuhkan bantuan petugas kesehatan dalam proses menuju transisi pencapaian fungsi self care.

  1. C. Tujuan Penulisan
    1. Tujuan umum

Mempelajari aplikasi Model Konsep Keperawatan self care Dorothea Orem pada kasus klien Ny M dengan kasus stroke non haemorragic di ruang saraf RSD Dr Soebandi Jember

  1. Tujuan khusus
    1. Menguraikan alasan ketertarikan dala pengambilan kasus stroke non haemorragic pada klien Ny M.
    2. Melakukan penerapan model konsep keperawatan self care Dorothea Orem pada kasus stroke non haemorragic pada klien Ny M
    3. Melakukan pengelolaan pada kasus stroke non haemorragic pada klien Ny M dengan menggunakan model konsep keperawtan self care Dorothea Orem
    4. Melakukan pembahasan terhadap kasus yang telah dikelola
    5. Menarik kesimpulan dari proses penerapan model konseptual pada kasus stroke non haemorragic.
  1. A. Konsep  Model  Konseptual Keperawatan Self Care
  2. Keperawatan mandiri (self care) menurut Orem’s adalah :

Suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit. (Orem’s 1980).

Pada dasarnya diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri, kecuali bila tidak mampu.

  1. Keyakinan dan nilai-nilai

1.  Keyakinan Orem’s tentang empat konsep utama keperawatan adalah :

a.  Klien : Individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus mempertahankan self care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit/trauma atau coping dan efeknya.

b.  Sehat : Kemampuan individu atau kelompok memenuhi tuntutan self care yang berperan untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas struktural fungsi dan perkembangan.

c.  Lingkungan : Tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan keperluan self care dan perawat termasuk di dalamnya tetapi tidak spesifik.

d. Keperawatan : Pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang dilakukan untuk membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam mempertahankan seft care yang mencakup integrias struktural, fungsi dan perkembangan.

  1. Tiga kategori self care

Model Orem’s, meyebutkan ada beberapa kebutuhan self care atau yang disebutkan sebagai keperluan self care (sefl care requisite), yaitu :

a.  Universal self care requisite : Keperluan self care universal ada pada setiap manusia dan berkaitan dengan fungsi kemanusian dan proses kehidupan, biasanya mengacu pada kebutuhan dasar manusia. Universal self care requisite yang dimaksudkan adalah :

-   Pemeliharaan kecukupan intake udara

-   Pemeliharaan kecukupan intake cairan

-   Pemeliharaan kecukupan intake makanan

-   Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat

-   Pemeliharaan keseimbangan antara solitut dan interaksi sosial

-   Mencegah ancaman kehidupan manusia, fungsi kemanusiaan dan kesejahteraan manusia.

-   Persediaan asuhan yang berkaitan dengan proses-proses eleminasi dan exrement.

-   Meningkatkan fungsi human fungtioning dan perkembangan kedalam kelompok sosial sesuai dengan potensi seseorang, keterbatasan seseorang dan keinginan seseorang untuk menjadi normal.

b.  Developmental self care requisite : terjadi berhubungan dengan tingkat perkembangan individu dan lingkungan dimana tempat mereka tinggal, yang berkaitan dengan perubahan hidup seseorang atau tingkat siklus kehidupan.

c.   Health Deviation self care requisite : timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan merupakan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi nyata karena sakit atau ketidakmampuan yang menginginkan perubahan dalam perilaku self care.

Orem’s mendiskripsikan dua kategori dibawah ini sebagai keperluan self care (self care requisites), dan ini timbul dari pengaruh peristiwa-peristiwa pada keperluan universal self care  antara lain : Sewaktu ada keinginan untuk mengasuh dirinya sendiri dan seseorang itu mampu untuk menemukan keinginannya, maka self care itu dimungkinkan. Tetapi bila keinginan itu lebih besar dari kapasitas individual atau kemampuan untuk menemukannya, terjadilah ketidak seimbangan dan ini dikatakan sebagai self  care deficit.

  1. Tujuan

Tujuan keperawatan pada model Orem’s secara umum adalah :

1.  Menurunkan tuntutan self care kepada tingkat dimana klien dapat memenuhinya, ini berarti menghilangkan self care deficit.

2.  Memungkinkan klien meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan self care.

3.  Memungkinkan orang yang berarti (bermakna) bagi klien untuk memberikan asuhan depenent (dependent care) jika self care tidak memungkinkan, oleh karenanya self care deficit apapun dihilangkan.

4.  Jika ketiganya diatas tidak ada yang tercapai, perawat secara langsung dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan self care klien.

Tujuan kepewatan pada model Orem’s yang diterapkan kedalam praktek keperawatan keluarga /komunitas adalah :

1.  Menolong klien dalam hal ini keluarga untuk keperawatan mandiri secara therapeutik.

2.  Menolong klien bergerak kearah tindakan-tindakan asuhan mandiri

3.  Membantu anggota keluarga untuk merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan secara kompeten.

Dengan demikian maka fokus asuhan keperawatan pada Model Orem’s yang diterapkan pada praktek keperawatan keluarga / komunitas adalah :

a.  Aspek Interpersonal : Hubungan didalam keluarga

b.  Aspek Sosial : Hubungan keluarga dengan masyarakat di sekitarnya.

c.  Aspek Prosedural : Melatih ketrampilan dasar keluarga sehingga mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi.

e.  Aspek Tehnis : Mengajarkan kepada keluarga tentang tehnik dasar yang dilakukan dirumah, misalnya melakukan tindakan kompres secara benar.

  1. Pengetahuan dan Ketrampilan untuk Praktek

Perawat menolong klien untuk menemukan kebutuhan self care dengan menggunakan tiga kategori dalam system keperawatan dan melalui lima metode bantuan.

1.  Kategoi Bantuan :

a.  Wholly Compensatory      :    Bantuan secara  keseluruhan, dibutuhkan untuk klien yang tidak mampu mengontrol dan memantau lingkungannya dan tidak berespon terhadap rangsangan.

b.  Partially Compensatory     :    Bantuan sebagian, dibutuhkan bagi klien yang mengalami keterbatasan gerak karena sakit atau kecelakaan.

c.  Supportive Education        :    Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.

2.  Metode  Bantuan

Perawat membantu klien dengan menggunakan sistem dan melalui lima metode bantuan yang meliputi :

a.  Acting atau melakukan sesuatu untuk klien

b.  Mengajarkan klien

c.  mengarahkan klien

d.  Mensupport klien

e.  Menyediakan lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang.

Untuk melaksanakan hal tersebut, lima area utama untuk praktek keperawatan di diskripsikan sebagai berikut :

a.  Masuk kedalam dan memelihara hubungan perawat – klien dengan individu,   keluarga atau kelompok sampai klien  dapat diizinkan pulang dari perawatan.

b.  Menetapkan jika dan bagaimana klien dapat dibantu melalui perawatan.

c.  Merespon keperluan klien, keinginannya dan kebutuhannya untuk kontak dengan perawat dan asisten.

d.  Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan keperawatan dan kehidupan sehari-hari klien, pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau diterima, atau pelayanan sosial dan penyuluhan yang dibutuhkan atau yang diterima.

BAB IV

PEMBAHASAN

Gangguan peredaran darah otak merupakan suatu masalah yang komplek dimana manifestasi yang ditimbulkan akan berdampak luas pada individu. Salah satu manifestasi yang muncul adalah kerusakan neuromuskular misal lumpuh sebagian anggota badan maupun secara total, tergantung area yang terkena gangguan.

Ny M dengan diagnosa medis Stroke infark akibat tromboembolitik telah dilakukan pengkajian pada pada hari ke 4 awitan dimana klien teridentifikasi memiliki tingkat ketergantungan the partially compensatory nursing system. Melalui asuhan keperawatan dengan mengunakan pendekatan model konsep self care Orem maka perawat akan memfasilitasi kebutuhan klien dalam menyelesaikan masalah kesehatan hingga akhirnya klien mampu mencapai fungsi self carenya dengan bantuan dari keluarga.

Pada pengkajian menurut Orem pada Ny M melalui langkah pertama dapat diidentifikasi masalah keperawatan yang muncul adalah: Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan suplai darah ke cerebral, ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penurunan kemampuan batuk efektif, defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan.

Setelah perawat melakukan proses keperawatan maka penetapan tujuan merupakan kolaborasi antara perawat-keluarga-klien dimana keluarga sebagai unit terdekat yang nantinya akan memfasilitasi kebutuhan klien setinggalnya di rumah dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki klien dalam menyelesaikan masalah keperawatan

Pada penetapan tujuan dan rencana tindakan perawat akan memfasilitasi klien dalam melakukan batuk efektif dan pengaturan pola nafas dan dapat beradaptasi dengan kondisinya saat ini dengan bantuan terutama dari keluarga dimana klien dapat berlatih mobilisasi aktif bertahap guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bantuan sebagian dari petugas kesehatan dan dari keluarga. Pada proses implementasi perawat senantiasa melibatkan keluarga dalam melakukan intervensi agar mampu mengetahui kebutuhan klien yang dapat dipenuhi oleh keluarga. Dalam proses ini tidak terdapat masalah yang berarti sebab klien dan keluarga kooperatif dan mampu memahami penjelasan dari perawat.

Proses evaluasi dilakukan setelah melalui tahapan implementasi keperawatan terhadap diagnosa yang muncul. Dari hasil evaluasi didapatkan kesimpulan bahwa klien masih dalam tahap the partially compensatory nursing system dimana kebutuhan klien masih dibantu oleh perawat dan keluarga, namun dari klien sendiri sudah didapatkan peningkatan kemampuan baik fisik maupun psikologis yaitu motivasi untuk melakukan aktifitas secara mandiri dan peningkatan penghargaan terhadap diri sendiri. Hal in tentunya merupakan nilai positif dalam peningkatan kemampuan klien menuju self care yang nantinya akan dilakukan di rumah. Adapun dari keluarga dapat berperan aktif dalam pemenuhan klien ketika masih dalam perawatan di rumah sakit sehingga proses asuhan keperawatan dalam berjalan lancar sebagaimana mestinya.

BAB V

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Dengan mempelajari model konsep maka dapat disimpulkan betapa perawat harus memahami apa yang harus dilakukan secara tepat dan akurat sehingga klien dapat memperoleh haknya secara tepat dan benar. Asuhan keperawatan dengan pemilihan model konsep yang sesuai dengan karakteristik klien dapat memberikan asuhan keperawatan yang relevan.

Model konsep self care mempunyai makna bahwa semua manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk memperolehnya sendiri kecuali jika tidak mampu. Dengan demikian perawat mengakui potensi klien untuk berpartisipasi merawat dirinya sendiri pada tingkat kemampuannya dan perawatan dapat menentukan tingkat bantuan yang akan diberikan dan untuk dapat menerapkan teori keperawatan ini diperlukan suatu pengetahuan dan ketrampilan yang mendalam terhadap teori keperawatan sehingga diperoleh kemampuan tehnikal dan sikap yang terapeutik.

  1. B. Saran

Pada dasarnya semua teori yang ada merupakan sebuah petunjuk praktik dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. antara teori satu dengan teori lain tidaklah saling bertentangan, melainkan saling berkaitan. Penggunaan teori keperawatan memungkinkan perbaikan pelayanan keperawatan yang lebih berkualitas. keperawatan dalam menghadapi tantangan di masa depan haruslah memiliki sebuah model dan pandangan sendiri tentang disiplin ilmunya. Keperawatan yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu kesehatan berusaha menampilkan sebuah cabang ilmu yang berbeda dari ilmu kesehatan yang lainya sehingga dapat meningkatkan penghargan terhadap disiplin ilmu keperawatan dengan tujuan akhir meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Juall. 2000. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan.Jakarta: EGC

Doengoes, Marylinn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan “Pedoman untuk perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan. Jakarta : EGC.

Hudak & Gallo.1987. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik ( terjemahan ), Edisi VI, Volume II. Jakarta: EGC.

Hand Out Kursus Keperawatan Neurologi, Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Jakarta (tidak dipublikasikan)

Indriyani, Diyan. 2009. Kumpulan Makalah Teori Model Konseptual Keperawatan. Tidak dipublikasikan. Jember: Universitas Muhammadiyah Jember

Japardi, Iskandar. 2002. Patofisiologi Stroke Infark akibat Tromboemboli. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. (online), (http://www.USU digital library.com diakses Juni 2009).

Made, Kariasa.1997. Patofisiologi Beberapa Gangguan Neurologi.Jakarta:EGC

Saanin, Syaiful.2009.Neurosurgeon.(online), (http://www.saanin@padang.wasantara.net.id diakses Juni 2009).

Tawi, Mirzal. 2008. Konsep model “Self Care TheoryDikutip dari Makalah Hajjul Kamil,M.Kep,dkk. (online),(http://syehaceh.wordpress.com diakses juni 2009).

27 November 2009 at 08:09 1 komentar

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

 

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 2006).

 

2. Etiologi

1) Intrakranial

Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik

Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular

Infeksi : Bakteri, virus, parasit

Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith – Lemli – Opitz.

2) Ekstra kranial

Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, gangguan elektrolit (Na dan K)

Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.

Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus.

Idiopatik

Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits).

(Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 2006).

 

3. Patofisiologi

Keseimbangan potensial membran dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.

Lepasnya muatan listrik ini dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wilson, 2006).

 

4. Manifestasi klinik

Pembagian kejang demam:

1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)

2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever

Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaitu :

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun

2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.

3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali

4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam

5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.

 

5. Klasifikasi kejang

Kejang Tonik

Biasanya  terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan  masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus

 

Kejang Klonik

Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.

Kejang Mioklonik

Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro..

 

6. Diagnosa banding kejang pada anak

Gemetar

Keadaan ini dapat terlihat pada anak normal dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia, hipokapnia dengan hiperiritabilitas neuromuskular, bayi dengan ensepalopati hipoksik iskemi dan BBLR. Gemetar adalah gerakan tremor cepat dengan irama dan amplitudo teratur dan sama, kadang-kadang bentuk gerakannya menyerupai klonik .

b. Apnea

c. Mioklonus Nokturnal Benigna

Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur. Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari persendian tangan dan siku yang berulang. Apabila serangan tersebut berlangsung lama dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik

 

7. Penatalaksanaan

a. Mengawasi dengan teliti dan hati-hati

b. Memonitor pernafasan dan denyut jantung

c. Usahakan suhu tetap stabil

d. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain

e. Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena

Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 – 4 ml/kg BB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60 – 80 ml/kg secara intravena. Kemudian dilanjutkan dengan peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.

Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 – 6 ml. Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis selama 20 menit.

Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk memberantas kejang pada BBL dengan alasan fek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya, pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan.

 

8. Pemeriksaan fisik dan laboratorium

a. Pemeriksaan fisik

1) Lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.

2) Kesadaran  tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.

3) Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan oleh trauma.

4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.

5) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.

7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.

b. Pemeriksaan laboratorium

1) Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit.

2) Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan analisis gas darah.

3) Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia.

4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia

5) Pemeriksaan EEG

6) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku

 

9. Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahun

1. Fisik

Ubun-ubun anterior tertutup, physiologis dapat mengontrol spinkter

2. Motorik kasar

Berlari dengan tidak mantap, berjalan diatas tangga dengan satu tangan, menarik dan mendorong mainan, melompat ditempat dengan kedua kaki, dapat duduk sendiri ditempat duduk, melempar bola diatas tangan tanpa jatuh

3. Motorik halus

Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan, melepaskan dan meraih dengan baik, menggambar dengan membuat tiruan

4. Vokal atau suara

Mengatakan 10 kata atau lebih, menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh

5. Sosialisasi atau kognitif

Meniru, menggunakan sendok dengan baik, menggunakan sarung tangan, watak pemarah mungkin lebih jelas, mulai sadar dengan barang miliknya

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. Pengkajian

1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot. Gerakan involunter

2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan

3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan, peka rangsangan.

4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter

5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi

6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra

7. Riwayat jatuh / trauma

 

2. Diagnosa keperawatan

1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.

2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular

3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

 

3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1

Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.

Tujuan:

Cidera / trauma tidak terjadi

Kriteria hasil:

Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan keamanan lingkungan

Intervensi

  1. Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang.
  2. Observasi keadaan umum, sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali terjadi.
  3. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang.
  4. Lindungi klien dari trauma atau kejang.
  5. Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti compulsan

Diagnosa 2

Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular

Tujuan

Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi

Kriteria hasil

Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR dalam batas normal

Intervensi

  1. Observasi tanda-tanda vital,
  2. Atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler.
  3. Lakukan penghisapan lendir.
  4. kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi

Diagnosa 3

Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

Tujuan

Aktivitas kejang tidak berulang

Kriteria hasil

Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal

Intervensi

  1. Kaji faktor pencetus kejang.
  2. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
  3. Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma.
  4. Berikan kompres dingin pda daerah dahi dan ketiak.

 

Daftar Pustaka

Huda&Gallo.1996.Keperawatan Kritis.Jakarta:EGC

Sylvia A. Price, Latraine M. Wison. 2006.     Patofisiologi edisi 6. Jakarta:EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC.

Suharso Darto. 1994.Pedoman Diagnosis dan Terapi.Surabaya: Unair Press.

Doenges, Marylinn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC.

22 November 2009 at 04:33 Tinggalkan komentar

Laporan pendahuluan periappendic infiltrat

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA KLIEN DENGAN PERI APPENDIC INFILTRAT


BAB  I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Kondisi kesehatan maksimal merupakan prioritas utama masing- masing individu. Peningkatan derajat kesehatan merupakan tujuan akhir dari suatu proses pengobatan sedangkan kondisi sakit merupakan salah satu penyebab individu terhambat dalam pencapaian derajat kesehatan yang lebih baik. Kondisi appendiksitis merupakan salah satu penyebab penurunan derajat kesehatan individu. Appendiks dapat mengalami keradangan pembentukan mukokel, tempat parasit, tumor benigna atau maligna dapat mengalami trauma, pembentukan pistula interna atau eksterna, kelainan kongenital korpus ileum dan kelaina yang lain.  Khusus untuk appendiks terdapat cara prevensi yang hanya mengurangi morbilitas dan mortalitas sebelum menjadi perforasi atau gangren  (FKUA ; 1989 ). Tindakan pengobatan terhadap appendiks dapat dilakukan dengan cara operasi (pembedahan).  Pada operasi appendiks dikeluarkan dengan cara appendiktomy yang merupakan suatu tindakan pembedahan  membuang appendiks ( Puruhito ; 1993).

Disisi lain proses operasi meliputi pelaksanaan asuhan keperawatan perioperatif. Dimana merupakan istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu preoperative phase, intraoperative phase dan post operative phase. Pelaksanaan peran perawat perioperatif ini sebagai salah satu unsur penentu keberhasilan kepuasan pasien yang mengalami tindakan pembedahan. Dengan demikian peranan perawat dalam mengatasi dan menanggulangi hal tersebut sangatlah penting dan dibutuhkan terutama perawatan yang mencakup: promotif , kuratif, rehabilitatif

  1. B. Rumusan Masalah

Peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap dunia kesehatan juga mempengaruhi mutu pelayanan yang akan diberikan oleh perawat terutama klien dengan tindakan operatif. Dengan perawat melaksanakan asuhan keperawatan perioperatif di Instalasi Bedah Sentral diharapkan kemandirian perawat akan terlihat nyata dan mampu membantu pasien melewati masa transisi pada status kesehatannya, terjalin komunikasi yang asertif dan pada akhirnya kepuasan pasien akan pelayanan kesehatan pada umumnya dapat tercapai.

  1. C. Tujuan Penulisan
  2. 1. Tujuan Umum

Memperoleh pengalaman nyata dalam menerapkan Asuhan keperawatan klien perioperatif appendictomy secara komprehensif melalui pendekatan proses keperawatan.

  1. 2. Tujuan Khusus
    1. Melakukan pengkajian secara langsung pada klien perioperatif appendiktomy.
    2. Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada klien perioperatif appendiktomy.
    3. Dapat membuat perencanaan pada klien perioperatif appendiktomy.
    4. Mampu  melaksanakan tindakan keperawatan pada klien perioperatif appendiktomy.
    5. Mampu  mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada klien perioperatif appendiktomy.
  1. D. Manfaat Penulisan
    1. Asuhan keperawatan akan memberikan wawasan yang luas mengenai masalah keperawatan pada klien post appendiktomy.
    2. Asuhan keperawatan akan memberi wawasan kepada perawat dalam  memberikan asuhan keperawatan yang benar tentang masalah klienperioperatif  appendiktomy

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
  1. A. Definisi

Appendiks akut adalah peradangan dari appendiks vermiformis yang merupakan penyebab umum dari akut abdomen (Junaidi, dkk, 1982). Appendisitis adalah peradangan dari suatu appendiks.

Appendisitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu appendiks ( Baratajaya, 1990).

  1. B. Anatomi  Fisiologi

Embriologi appendiks berhubungan dengan caecum, tumbuh dari ujung inferiornya.  Tonjolan appendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol pada  apek caecum sepanjang 4,5 cm.  Pada orang dewasa panjang appendiks rata-rata 9 – 10 cm, terletak posteromedial caecum kira-kira 3 cm inferior valvula ileosekalis.  Posisi appendiks bisa retrosekal, retroileal,subileal atau dipelvis, memberikan gambaran klinis yang tidak sama.  Persarafan para simpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis x, karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus.  Perdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan artei tanpa kolateral.  Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan mengalami gangren.

Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan musin.  Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.  Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks. Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah Ig A. Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan limfe kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh. ( R.Syamsu ; 1997)

  1. Etiologi
    Apendiksitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat:
    1. Hiperplasia dari folikel limfoid

2. Adanya fekalit dalam lumen apendiks

3. Tumor apendiks

4. Adanya benda asing seperti cacing askariasis

5. Erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. Histilitica.

Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendiksitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.

  1. D. Tanda dan Gejala

Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu  makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.

Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal ; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahui pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekekuan pada bagian bawah otot rektum kanan dapat terjadi.
Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar ; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitikdan kondisi klien memburuk.

  1. E. Klasifikasi appendicitis (Ellis, 1989)

1.   Acute appendicitis tanpa komplikasi. (cataral appendicitis)

Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mucosa saja. Appendix kadang tampak normal, atau hanya hiperemia saja. Bila appendix tersebut dibuka, maka akan tampak mukosa yang menebal, oedema dan kemerahan. Kondisi ini disebabkan invasi bakteri dari jaringan limpoid ke dalam dinding appendix. Karena lumen appendix tak tersumbat. Maka hal ini hanya menyebabkan peradangan biasa. Bila jaringan limpoid di dinding appendix mengalami oedema, maka akam mengakibatkan obstruksi lumen appendix, yang akan mempengaruhi feeding sehingga appendix menjadi gangrena, seterusnya timbul infark. Atau hanya mengalami perforasi (mikroskopis), dalam hal ini serosa menjadi kasar dan dilapisi eksudat fibrin Post appendicitis acute, kadang-kadnag terbentuk adesi yang mengakibatkan kinking, dan kejadian ini bisa membentuk sumbatan pula

2. .   Acute appendicitis dengan komplikasi:

Peritonitis

Abses atau infiltrat. Merupakan appendicitis yang berbahaya, karena appendix menjadi lingkaran tertutup yang berisi “fecal material”, yang telah mengalami dekomposisi. Perbahan setelah terjadinya sumbatan lumen appendix tergantung daripada isi sumbatan. Bila lumen appendix kosong, appendix hanya mengalami distensi yang berisi cairan mucus dan terbentuklah mucocele. Sedangkan bakteria penyebab, biasanya merupakan flora normal lumen usus berupa aerob (gram + dan atau gram – ) dan anaerob. Pada saat appendix mengalami obstruksi, terjadi penumpukan sekresi mucus, yang akan mengakibatkan proliferasi bakteri, sehingga terjadi penekanan pada moukosa appendix, dikuti dengan masuknya bakteri ke dalam jaringan yang lebih dalam lagi. Sehingga timbulah proses inflamasi dinding appendix, yang diikuti dengan proses trombosis pembuluh darah setempat. Karena arteri appendix merupakan end arteri sehingga menyebabkan daerah distal kekurangan darah, terbentuklah gangrene yang segera diikuti dengan proses nekrosis dinding appendix.

Dikesempatan lain bakteri mengadakan multiplikasi dan invesi melalui erosi mukosa, karena tekanan isi lumen, yang berakibat perforasi dinding, sehingga timbul peritonitis. Proses obstruksi appendix ini merupakan kasus terbanyak untuk appendicitis. Dua per tiga kasus gangrene appendix, fecalith selalu didapatkan bila kondisi penderita baik, maka perforasi tersebut akan dikompensir dengan proses pembentukan dinding oleh karingan sekitar, misal omentum dan jaringan viscera lain, terjadilah infiltrat atau (mass), atau proses pultulasi yang mengakibatkan abses periappendix

  1. F. Patofisiologi

Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi  penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,adanya fekalit dalam lumen appendiks.  Adanya benda asing seperti cacing, stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid).

Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral.  Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus. Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa.  Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi.  Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses.  Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat.  Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).

  1. G. Komplikasi

Peritonitis :

Peritonitis lokal merupakan akibat dari mikroperforasi dari appendicitis yang telah mengalami gangrene. Sedangkan peritonitis umum adalah merupakan tindak lanjut daripada peritonitis lokal tersebut. Bertambahnya rasa nyeri, defans musculer yang meluas, distensi abdomen, bahkan ileus paralitik, merupakan gejala-gejala peritonitis umum. Bila demam makin tinggi dan timbul gejala-gejala sepsis, menunjukkan peritonitis yang makin berat.

Abses / infiltrat :

Merupakan akibat lain dari perforasi. Teraba masa lunak di abdomen kanan bawah. Seperti tersebut diatas karena perforasi terjadilah “walling off” (pembentukan dinding) oleh omentum atau viscera lainnya, sehingga terabalah

massa (infiltrat) di regio abdomen kanan bawah tersebut. Masa mula-mula bisa berupa plegmon, kemudian berkembang menjadi rongga yang berisi pus. Dengan USG bisa dideteksi adanya bentukan abses ini. Untuk massa atau infiltrat ini, beberapa ahli menganjurkan anti biotika dulu, setelah 6 minggu kemudian dilakukan appendektomi. Hal ini untuk menghindari penyebaran infeksi

Komplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi adalah 105 sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7o C atau lebih tinggi, nyeri tekan abdomen yang kontinue.

  1. H. Pemeriksaan Penunjang
    1. Laboratorium

Nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat, walaupun hal ini bukan hasil yang karakteristik. Penyakit infeksi pada pelvis terutama pada wanita akan memberikan gambaran laborotorium yang terkadang sulit dibedakan dengan apendisitis akut  Pemeriksaan laboratorium merupakan alat bantu diagnosis. Pada dasarnya inflamasi  merupakan reaksi lokal dari jaringan hidup terhadap suatu jejas. Reaksi tersebut meliputi reaksi vaskuler, neurologik, humoral dan seluler. Fungsi inflamasi di sini adalah memobilisasi semua bentuk pertahanan tubuh dan membawa mereka pada tempat yang terkena jejas dengan cara: mempersiapkan berbagai bentuk fagosit (lekosit polimorfonuklear, makrofag)  pada tempat tersebut, pembentukan berbagai macam antibodi pada daerah inflamasi,  menetralisir dan mencairkan iritan, membatasi perluasan inflamasi dengan pembentukan fibrin dan terbentuknya  dinding jaringan granulasi.

Pada anak dengan keluhan dan pemeriksaan fisik yang karakteristik apendisitis akut, akan ditemukan pada pemeriksaan darah adanya lekositosis 11.000-14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran kekiri hampir 75%. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka umumnya sudah terjadi perforasi dan peritonitis (Raffensperger, 1990). Menurut Ein (2000) pada penderita apendisitis akut ditemukan jumlah lekosit antara 12.000-20.000/mm3 dan bila terjadi perforasi atau peritonitis jumlah lekosit antara 20.000-30.000/mm3.  Sedang Doraiswamy (1979), mengemukakan bahwa komnbinasi antara kenaikan angka lekosit dan granulosit adalah yang dipakai untuk pedoman menentukan diagnosa appendicitis acut. Tes laboratorium untuk appendicitis bersifat kurang spesifik., sehingga hasilnya juga kurang dapat dipakai sebagai konfirmasi penegakkkan diagnosa. Jumlah lekosit untuk appendisitis akut adalah >10.000/mmk dengan pergeseran kekiri pada hemogramnya (>70% netrofil). Sehingga gambaran lekositosis dengan peningkatan granulosit dipakai sebagai pedoman untuk appendicitis acute (Bolton et al, 1975). Kontroversinya adalah beberapa penderita dengan appendicitis acut, memiliki jumlah lekosit dan granulosit tetap normal (Nauts et al, 1986).

C-rective protein (CRP).  Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen.

2.  Foto Polos abdomen

Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan bawah yang sesuai dengan lokasi apendiks, gambaran ini ditemukan pada 20% kasus (Cloud, 1993). Kalau peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian kanan bawah akan kolaps. Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara. Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain. Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan. Gambaran ini tampak pada penderita apendisitis akut (Mantu, 1994).  Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara bebas di bawah diafragma. Kadang-kadang udara begitu sedikit sehingga perlu foto khusus untuk melihatnya.

Kalau sudah terjadi peritonitis yang biasanya disertai dengan kantong-kantong pus, maka akan tampak udara yang tersebar tidak merata dan usus-usus yang sebagian distensi dan mungkin tampak cairan bebas, gambaran lemak preperitoneal menghilang, pengkaburan psoas shadow. Walaupun terjadi ileus paralitik tetapi mungkin terlihat pada beberapa tempat adanya permukaan cairan udara (air-fluid level) yang menunjukkan adanya obstruksi (Raffensperger, 1990; Mantu, 1994). Foto x-ray abdomen dapat mendeteksi adanya fecalith (kotoran yang mengeras dan terkalsifikasi, berukuran sebesar kacang polong yang menyumbat pembukaan appendik) yang dapat menyebabkan appendisitis. Ini biasanya terjadi pada anak-anak. Foto polos abdomen supine pada abses appendik kadang-kadang memberi pola bercak udara dan air fluid level pada posisi berdiri/LLD ( decubitus ), kalsifikasi bercak rim-like( melingkar ) sekitar perifer mukokel yang asalnya dari appendik.  Pada appendisitis akut, kuadran kanan bawah perlu diperiksa untuk mencari appendikolit : kalsifikasi bulat lonjong, sering berlapis.

  1. Pemeriksaan radiologi dengan kontras barium enema hanya digunakan pada kasus-kasus menahun. Pemeriksaan radiologi dengan barium enema dapat menentukan penyakit lain yang menyertai apendisitis
  2. Ultrasonografi

Apendiks yang meradang tampak sebagai lumen tubuler, diameter lebih dari 6 mm, tidak ada peristaltik pada penampakan longitudinal, dan gambaran target pada penampakan transversal (Gustavo GR, 1995) Keadaan awal apendisitis akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan apendiks, lumen yang utuh, dan diameter 9 – 11 mm. Keadaan apendiks supurasi atau gangrene ditandai dengan distensi lumen oleh cairan, penebalan dinding apendiks dengan atau tanpa apendikolit. Keadaan apendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding apendiks yang asimetris, cairan bebas intraperitonial, dan abses tunggal atau multipel (Gustavo GR, 1995).

  1. Computed Tomography Scanning (CT-Scan)
Perbandingan pemeriksaan penunjanng apendisitis akut:
Ultrasonografi CT-Scan
Sensitivitas 85% 90 – 100%
Spesifisitas 92% 95  -  97%
Akurasi 90 – 94% 94 – 100%
Keuntungan Aman Lebih akurat
relatif tidak mahal Mengidentifikasi abses dan flegmon lebih baik
Dapat mendignosis kelainan lain pada wanita Mengidentifikasi apendiks normal lebih baik
Baik untuk anak-anak
Kerugian Tergantung operator Mahal
Sulit secara tehnik Radiasi ion
Nyeri Kontras
Sulit di RS daerah Sulit di RS daerah
  1. Laparoskopi (Laparoscopy)
  2. Histopatologi
Difinisi histopatologi apendisitis akut:
1 Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di lapisan epitel.
2 Abses pada kripte dengan sel granulosit dilapisan epitel.
3 Sel granulosit dalam lumen apendiks dengan infiltrasi ke dalam lapisan epitel.
4 Sel granulosit diatas lapisan serosa apendiks dengan abses apendikuler,
dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa.
5 Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses mukosa dan
keterlibatan lapisan mukosa, bukan apendisitis akut tetapi periapendisitis.
  1. I. Penatalaksanaan

Pada apendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi apendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang tidak merangsang persitaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain diperut kanan bawah.

a. Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan
b. Tindakan operatif ; apendiktomi

c. Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.

  1. J. Asuhan Keperawatan
    1. 1. Pengkajian

a.  Identitas

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, tanggal atau jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa, nama orang tua, alamat, umur pendidikan, pekerjaan, pekerjaan orang tua, agama dan suku bangsa.

b.  Riwayat penyakit sekarang

Klien dengan post appendiktomy mempunyai keluhan utama nyeri yang disebabkan insisi abdomen.

c.  Riwayat penyakit dahulu

Meliputi penyakit apa yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi, operasi abdomen yang lalu, apakah klien pernah masuk rumah sakit, obat-abatan yang pernah digunakan apakah mempunyai riwayat alergi dan imunisasi apa yang pernah diderita.

d.  Riwayat penyakit keluarga

Adalah keluarga yang pernah menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi, gangguan jiwa atau penyakit kronis lainnya uapaya yang dilakukan dan bagaimana genogramnya .

e.  Pola Fungsi Kesehatan

1)      Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat

Adakah kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, alkohol dan kebiasaan  olah raga (lama frekwensinya), bagaimana status ekonomi keluarga kebiasaan merokok dalam mempengaruhi lamanya penyembuhan luka.

2)      Pola Tidur dan Istirahat

Insisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat sehingga dapat mengganggu kenyamanan pola tidur klien.

3)      Pola aktifitas

Aktifitas dipengaruhioleh keadaan dan malas bergerak karena rasa nyeri luka operasi, aktifitas biasanya terbatas karena harus bedrest berapa waktu lamanya setelah pembedahan.

4)      Pola hubungan dan peran

Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa melakukan peran baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat.

penderita mengalami emosi yang tidak stabil.

5)      Pola sensorik dan kognitif

Ada tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan, pearaan serta pendengaran, kemampuan berfikir, mengingat masa lalu, orientasi terhadap orang tua, waktu dan tempat.

6)      Pola penanggulangan  stress

Kebiasaan klien yang digunakan dalam mengatasi masalah.

7)      Pola tata nilai dan kepercayaan

Bagaimana keyakinan klien pada agamanya dan bagaimana cara klien mendekatkan diri dengan tuhan selama sakit.

  1. 2. Pemeriksaan fisik

1.   Status Kesehatan umum

Kesadaran biasanya kompos mentis, ekspresi wajah menahan sakit tanpa sakit ada tidaknya kelemahan.

2.  Integumen

Ada tidaknya oedem, sianosis, pucat, pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah kanan bawah .

3. Kepala dan Leher

Ekspresi wajah kesakitan  pada konjungtiva lihat apakah ada warna     pucat.

4.   Torax dan Paru

Apakah bentuknya simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, gerakan cuping hidung maupun alat Bantu nafas frekwensi pernafasan biasanya normal (16 – 20 kali permenit).  Apakah ada ronchi, whezing, stridor.

5.  Abdomen

Pada post operasi biasanya sering terjadi ada tidaknya pristaltik pada usus ditandai dengan distensi abdomen, tidak flatus dan mual, apakah bisa kencing spontan atau retensi urine, distensi supra pubis, periksa apakah produksi urine cukup, keadaan urine apakah jernih, keruh atau hematuri jika dipasang kateter periksa apakah mengalir lancar, tidak ada pembuntuan serta terfiksasi dengan baik.

6.  Ekstremitas

Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan.

  1. K. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan

a. Pre operasi

1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah pre operasi.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.

3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

b. Post operasi

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi apendektomi.

2. gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berkurang baehubungan denga anorexia, mual.

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah. Kurang pengetahuan tentang perawatan dan penyakit berhubungan dengan kurang informasi.

  1. Perencanaan
    1. Persiapan umum operasi

a. Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).

  1. Mengukur tanda-tanda vital.
  2. Mengukur berat badan dan tinggi badan.
  3. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).
  4. Wawancara.
  5. Persiapan klien malam sebelum operasi

Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :
a. Persiapan kulit

b.  Persiapan saluran cerna

  1. Persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :
    1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.

2. Mengurangi kemungkinan obbstruksi usus.

3.Mencegah infeksi fases saat operasi.

Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :

  1. Puasa dan pembatasan makan dan minum.
  2. Pemberian enema jika perlu.
  3. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.
  4. Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 – 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
  5. Persiapan untuk anastesi
  6. Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi.

Meningkatkan istirahat dan tidur

Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan pre operasi :

  1. Mencatat tanda-tanda vital
  2. Cek gelang identitas klien
  3. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik
  4. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus
  5. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir
  6. Anjurkan klien untuk buang air kecil
  7. Perawatan mulut jika perlu
  8. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala
  9. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia

1) Intervesi pre operasi

  1. Obsevasi tanda-tanda vital
  2. Kaji intake dan output cairan
  3. Auskultasi bising usus
  4. Kaji status nyeri : skala, lokasi, karakteristik
  5. Ajarkan tehnik relaksasi
  6. Beri cairan intervena
  7. Kaji tingkat ansietas
  8. Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan

2) Intervensi post operasi

  1. Observasi tanda-tanda vital
  2. Kaji skala nyeri : Karakteristik, skala, lokasi
  3. Kaji keadaan luka
  4. Anjurkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk.
  5. Kaji status nutrisi
  6. Auskultasi bising usus
  7. Beri informasi perawatan luka dan penyakitnya.
  1. Evaluasi
    a. Gangguan rasa nyaman teratasi

b. Tidak terjadi infeksi

c. Gangguan nutrisi teratasi

d. Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya

e. Tidak terjadi penurunan berat badan

f. Tanda-tanda vital dalam batas normal

DAFTAR PUSTAKA

Baratajaya. 1990. Medikal Bedah. Jakarta: EGC

http://www.ilmubedah.com diposting tanggal 3 agustus 2008

http://www.asuhankeperawtan.com

http://www.perawatblogger.com

M.A. Henderson. 1989. Ilmu Bedah Untuk Perawat, Jakarta: Penerbit Yayasan essentia media

Puruhito, Soetanto  Wibowo, Soetomo Basuki. 1993. Pedoman Tehnik Operasi “OPTEK” Surabaya: UNAIR Press.

Soeparman Sarwono, Waspadji. 1990. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Smeltzer, Suzzane. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah volume 2. Jakarta: EGC.

Sylvia. A Price. 2000. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses Penyakit Jilid ll. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 7. Jakarta: EGC

Win Dejong, R, Syamsuhidayat. 1997., Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

20 November 2009 at 22:36 Tinggalkan komentar

cerebral palsy

Cerebral Palsy Ditinjau dari Aspek Neurologi

PENDAHULUAN

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya

Walaupun lesi serebral bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkembangan tanda-tanda neuron perifer akan berubah akibat maturasi serebral. Yang pertama kali memperkenalkan penyakit ini adalah William John Little (1843), yang menyebutnya dengan istilahcerebral diplegia, sebagai akibat prematuritas atau afiksia neonatorum. Sir William Olser adalah yang pertama kali memperkenalkan istilah cerebral palsy, sedangkan Sigmund Freud menyebutnya dengan istilah Infantile Cerebral Paralysis. Walaupun sulit, etiologi cerebral palsy perlu diketahui untuk tindakan pencegahan. Fisioterapi dini memberi hasil baik, namun adanya gangguan perkembangan mental dapat menghalangi tercapainya tujuan pengobatan. Winthrop Phelps menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam penanganan penderita cerebral palsy, seperti disiplin anak, saraf, mata, THT, bedah tulang, bedah saraf, psikologi, ahli wicara, fisioterapi, pekerja sosial, guru sekolah Iuar biasa. Di samping itu juga harus disertakan peranan orang tua dan masyarakat

ANGKA KEJADIAN

Dengan meningkatnya pelayanan obstetrik dan perinatologi dan rendahnya angka kelahiran di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat angka kejadian cerebral palsy akan menurun . Narnun di negara-negara berkembang, kemajuan tektiologi kedokteran selain menurunkan angka kematian bayi risiko tinggi, juga meningkatkan jumlah anak-anak dengan gangguan perkembangan. Adanya variasi angka kejadian di berbagai negara karena pasien cerebal palsy datang ke berbagai klinik seperti klinik saraf, anak, klinik bedah tulang, klinik rehabilitasi medik dan sebagainya. Di samping itu juga karena para klinikus tidak konsisten menggunakan definisi dan terminologi cerebral palsy. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi insidensi penyakit ini yaitu: populasi yang diambil, cara diagnosis dan ketelitiannya. Misalnya insidensi cerebral palsy di Eropa (1950) sebanyak 2,5 per 1000 kelahiran hidup  , sedangkan di Skandinavia sebanyak 1,2 – 1,5 per 1000 kelahiran hidup

. Gilroy memperoleh  defisit motorik yang sesuai dengan cerebral palsy ; 50% kasus termasuk ringan sedangkan 10% termasuk berat. Yang dimaksud ringan ialah penderita yang dapat mengurus dirinya sendiri, sedangkan yang tergolong berat ialah penderita yang memerlukan perawatan khusus; 25% mempunyai intelegensi rata-rata (normal), sedangkan 30% kasus menunjukkan IQ di bawah 70;35% disertai kejang, sedangkan 50% menunjukkan adanya gangguan bicara. Laki-laki lebih banyak daripada wanita. Insiden relatif cerebral palsy yang digolongkan berdasarkan keluhan motorik adalah sebagai berikut: spastik 65%, atetosis 25%, dan rigid, tremor, ataktik I0%Disampaikan pada temu ilmiah dalam rangka HUT ke VII Klinik Tumbuh Kembang, Lab IKA/FK Unud RSUP. Denpasar. tanggal 17 April 1993. Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 37

ETIOLOGI

Penyebab cerebral palsy dapat dibagi dalam tiga periode yaitu:

1) Pranatal :

a) Malformasi kongenital.

b) Infeksi dalam kandungan yang dapat menyebabkan kelainanjanin (misalnya; rubela, toksoplamosis, sifihis, sitomegalovirus, atau infeksi virus lainnya).

c) Radiasi.

d) Tok gravidarum.

e) Asfiksia dalam kandungan (misalnya: solusio plasenta, plasenta previa, anoksi maternal, atau tali pusat yang abnormal).

2) Natal :

a) Anoksialhipoksia.

b) Perdarahan intra kranial.

c) Trauma lahir.

d) Prematuritas.

3) Postnatal :

a) Trauma kapitis.

b) Infeksi misalnya : meningitis bakterial, abses serebri, tromboplebitis, ensefalomielitis.

c) Kern icterus.

Beberapa penelitian menyebutkan faktor prenatal dan peri natal lebih berperan daripada faktor pascanatal. Studi oleh Nelson dkk (1986) menyebutkan bayi dengan berat lahir rendah, asfiksia saat lahir, iskemi prenatal, faktor genetik, malformasi kongenital, toksin, infeksi intrauterin merupakan faktor penyebab cerebral palsy. Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat lahir, sedangkan faktor perinatal yaitu segala faktor yang menyebabkan cerebral palsy mulai dari lahir sampai satu bulan kehidupan. Sedang1 faktor pasca natal mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun (Hagberg dkk 1975), atau sampai 5 tahun kehidupan (Blair dan Stanley, 1982), atau sampai 16 tahun (Perlstein, Hod, 1964) (dikutip dari 12).

GAMBARAN KLINIK

Gambaran klinik cerebral palsy tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan

1) Paralisis dapat berbentuk hemiplegia, kuadriplegia, diplegia, monoplegia, triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid, spastikatau campuran.

2) Gerakan involunter

Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.

3) Ataksia

Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung.

4) Kejang

Dapat bersifat umum atau fokal.

5) Gangguan perkembangan mental

Retarçlasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan dikembangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.

6) Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguari sçnsibilitas.

7) Problem emosional terutama pada saat remaja.

KLASIFIKASI

Banyak klasifikasi yang diajukan oleh para ahli, tetapi pada kesempatan ini akan diajukan klasifikasi berdasarkan gambaran klinis dan derajat kemampuan fungsionil Berdasarkan gejala klinis maka pembagian cerebral palsy adalah sebagai berikut:

1) Tipe spastis atau piramidal.

Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah :

a) Hipertoni (fenomena pisau lipat).

b) Hiperrefleksi yang djsertai klonus.

c) Kecenderungan timbul kontraktur.

d) Refleks patologis.

Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut:

a) Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama.

b) Spastik diplegia. Mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak bawah lebih berat.

c) Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.

d) Monoplegi, bila hanya satu anggota gerak.

e) Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah, biasanya merupakan varian dan kuadriplegi.

2) Tipe ekstrapiramidal

Akan berpengaruh pada bentuk tubuh, gerakan involunter, seperti atetosis, distonia, ataksia.

Tipe ini sering disertai gangguan emosional dan retardasi mental. Di samping itu juga dijumpai gejala hipertoni, hiperefleksi ringan, jarang sampai timbul klonus. Pada tipe ini kontraktunjarang ditemukan, apabila mengenai saraf otak bisa terlihat wajah yang asimetnis dan disantni.

3) Tipe campuran

Gejala-gejalanya merupakan campuran kedua gejala di atas, misalnya hiperrefleksi dan hipertoni disertai gerakan khorea.

Berdasarkan derajat kemampuan fungsional.

1) Ringan:

Penderita masih bisa melakukan pekerjaanlaktifitas sehari- hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.

2) Sedang:

Aktifitas sangat terbatas. Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau berbicara. Dengan pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak, bergaul, hidup di tengah masyarakat dengan baik.

3) Berat:

Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat Sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dalam rumah perawatan khusus. Rumah perawatan khusus ini hanya untuk penderita dengan retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan sosial-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.

PATOGENESIS

Perkembangan susunan saraf dimulai dengan terbentuknya neural tube yaitu induksi dorsal yang terjadi pada minggu ke 3- 4 masa gestasi dan induksi ventral, berlangsung pada minggu

ke 5­6 masa gestasi. Setiap gangguan pada masa ini bisa mengakibatkan terjadinya kelainan kongenital seperti kranioskisistotalis, anensefali, hidrosefalus dan lain sebagainya. Fase selanjutnya terjadi proliferasi neuron, yang terjadi pada masa gestasi bulan ke 2­4. Gangguan pada fase ini bisa mengakibatkan mikrosefali, makrosefali.

Stadium selanjutnya yaitu stadium migrasi yang terjadi pada masa gestasi bulan 3­5. Migrasi terjadi melalui dua cara yaitu secara radial, sd berdiferensiasi dan daerah periventnikuler dan subventrikuler ke lapisan sebelah dalam koerteks serebri; sedangkan migrasi secara tangensial sd berdiferensiasi dan zone germinal menuju ke permukaan korteks serebri. Gangguan pada masa ini bisa mengakibatkan kelainan kongenital seperti polimikrogiri, agenesis korpus kalosum. Stadium organisasi terjadi pada masa gestasi bulan ke 6 sampai beberapa tahun pascanatal. Gangguan pada stadium ini akan mengakibatkan translokasi genetik, gangguan metabolisme. Stadium mielinisasi terjadi pada saat lahir sampai beberapa tahun pasca natal. Pada stadium ini terjadi proliferasi sd neuron, dan pembentukan selubung mialin. Kelainan neuropatologik yang terjadi tergantung pada berat dan ringannya kerusakan Jadi kelainan neuropatologik yang terjadi sangat kompleks dan difus yang bisa mengenai korteks motorik traktus piramidalis daerah paraventnkuler ganglia basalis, batang otak dan serebelum. Anoksia serebri sering merupakan komplikasi perdarahan intraventrikuler dan subependim Asfiksia perinatal sering berkombinasi dengan iskemi yang bisa menyebabkan nekrosis.

Kerniktrus secara klinis memberikan gambaran kuning pada seluruh tubuh dan akan menempati ganglia basalis, hipokampus, sel-sel nukleus batang otak; bisa menyebabkan cerebral palsy tipe atetoid, gangguan pendengaran dan mental retardasi. Infeksi otak dapat mengakibatkan perlengketan meningen, sehingga terjadi obstruksi ruangan subaraknoid dan timbul hidrosefalus. Perdarahan dalam otak bisa meninggalkan rongga yang berhubungan dengan ventrikel.

Trauma lahir akan menimbulkan kompresi serebral atau perobekan sekunder. Trauma lahir ini menimbulkan gejala yang ireversibel. Lesi ireversibel lainnya akibat trauma adalah terjadi sikatriks pada sel-sel hipokampus yaitu pada kornu ammonis, yang akan bisa mengakibatkan bangkitan epilepsi.

.

DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis lengkap tentang riwayat kehamilan, perinatal dan pascanatal, dan memperhatikan faktor risiko terjadinya cerebral palsy. Juga pemeriksaan fisik lengkap dengan memperhatikan perkembangan motorik dan mental dan adanya refleks neonatus yang masih menetap. Pada bayi yang mempunyai risiko tinggi diperlukan pemeriksaan berulang kali, karena gejaladapat berubah, terutama pada bayi yang dengan hipotoni, yang menandakan perkembangan

motorik yang terlambat; hampir semua cerebral palsy melalui fase hipotoni.

Pemeriksaan penunjang lainnya yang diperlukan adalah foto polos kepala, pemeriksaan pungsi lumbal. Pemeriksaan EEG terutama pada pendenita yang memperlihatkan gejala motorik, seperti tetraparesis, hemiparesis, atau karena sering disertam kejang. Pemeriksaan ultrasonografi kepala atau CT Scan kepala dilakukan untuk mencoba mencani etiologi. Pemeniksaan psikologi untuk menentukan tingkat kemampuan intelektual yang akan menentukan cara pendidikan kesekolah biasa atau sekolah luar biasa

PENATALAKSANAAN

Tidak ada terapi spesifik terhadap cerebral palsy. Terapi bersifat simtomatik, yang diharapkan akan memperbaiki kondisi pasien. Terapi yang sangat dini akan dapat mencegah atau mengurangi gejala-gejala neurologik. Untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang diberikan dan untuk menentukan keberhasilannya maka perlu diperhatikan penggolongan cerebral palsy berdasarkan derajat kemampuan fungsionil yaitu derajat ringan, sedang dan berat.

Tujuan terapi pasien cerebral palsy adalah membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi motorik dan mencegah deformitas serta penyesuaian emosional dan pendidikan sehingga pendenta sedikit mungkin memerlukan pertolongan orang lain, diharapkan penderita bisa mandiri. Obat-obatan yang diberikan tergantung pada gejala-gejala yang muncul. Misalnya untuk kejang bisa diberikan anti kejang. Untuk spastisitas bisa diberikan baclofen dan diazepam. Bila gejala berupa nigiditas bisa diberikan levodopa. Mungkin diperlukan terapi bedah ortopedi maupun bedah saraf untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi.  Fisioterapi dini dan intensif untuk mencegah kecacatan, juga penanganan psikolog atau psikiater untuk mengatasi perubahan tingkah laku pada anak yang lebih besar. Yang tidak boleh dilupakan adalah masalah pendidikan yang harus sesuai dengan tingkat kecerdasan penderita. Occupational therapy ditujukan untuk meningkatkan kemampuan untuk menolong diri sendiri, memperbaiki kemampuan motorik halus, penderita dilatih supaya bisa mengenakan pakaian, makan, minum dan keterampilan lainnya.

Speech therapy diberikan pada anak dengan gangguan wicara bahasa, yang ditangani seorang ahli

PROGNOSIS

Prognosis tergantung pada gejala dan tipe cerebral palsy. Di Inggris dan Skandinavia 20 ­ 25% pasien dengan cerebral palsy mampu bekerja sebagai buruh penuh; sebanyak 30­35% dari semua pasien cerebral palsy dengan retardasi mental memerlukan perawatan khusus. Prognosis paling baik pada derajat fungsionil yang ringan. Prognosis bertambah berat apabila di sertai dengan retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran.

Pengamatan jangka panjang yang dilakukan oleh Cooper dkk seperti dikutip oleh Suwirno T  menyebutkan ada tendensi perbaikan fungsi koordinasi dan fungsi motorik dengan bertambahnya umur  asien cerebral palsy yang mendapatkan rehabilitasi yang baik

11 Oktober 2009 at 00:28 Tinggalkan komentar


Keperawatan

Flickr Photos

nmra 3215

Golden Frog

Sedge Warbler

The magical tree [ Explored 22nd April 2014 ]

The Hornby Triangle

Disrupted Years

Look into my Eyes.....

Hardknott Pass beckons - Explored

Untiltled...

Fleet Street Flyers 2

More Photos

my activity

April 2014
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya.

Twitter Terbaru

  • さて、寝よう。まんじぇろ配信ぽちっとな 1 day ago
  • 葬式費用>これまでの生涯収入  このフレーズ考えた人天才か 3 days ago
  • おめでとう。男は30からよ 3 days ago
  • やすくんのちんこぐるぐる振り回して飛んでるAAなんべん見てもおもしろい 3 days ago
  • 口内炎になるマムコにクンニとか特攻かて 3 days ago

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.